Rabu, 19 Januari 2011

contoh laporan prakerin

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Engine EFI
Pada mesin bensin, campuran udara dan bahan bakar bensin dihisap ke dalam silinder dan dikompresikan oleh torak pada saat bergerak naik. Dengan perantara bunga api yang dipercikan oleh busi, campuran bahan bakar bensin dan udara tersebut dibakar hingga terjadi tekanan dan temperatur yang sangat tinggi dan mendesak torak untuk bergerak dengan tenaga yang kuat. Dari gerak lurus torak menjadi gerak putar pada poros engkol melalui batang torak. Gerak putar inilah yang menghasilkn tenaga pada mobil.
Posisi tertinggi yang dicapai oleh torak didalam silinder disebut titik mati atas, dan posisi terendah yang dicapai torak disebut titik mati bawah. Jarak bergeraknya TMA dan TMB disebut langkah torak atau stroke.
Gambar 3.1 Kontruksi Mesin EFI


Organization Chart












Gambar 3.2 Diagram Mesin Bensin
      Injeksi bahan bakar adalah sebuah teknologi digunakan dalam mesin pembakaran dalam untuk mencampur bahan bakar dengan udara sebelum dibakar. Penggunaan injeksi bahan bakar akan meningkatkan tenaga mesin bila dibandingkan dengan penggunaan karburator. Dan injeksi bahan bakar juga dapat mengontrol pencampuran bahan bakar dan udara yang lebih tepat, baik dalam proporsi dan keseragaman.
       Injeksi bahan bakar dapat berupa mekanikal, elektronik atau campuran dari keduanya. Sistem awal berupa mekanikal namun sekitar 1980 mulai banyak menggunakan sistem elektronik.
       Sistem elektronik modern menggunakan banyak sensor untuk memonitor kondisi mesin, dan sebuah unit kontrol elektronik (electronic control unit, ECU) untuk menghitung jumlah bahan bakar yang diperlukan. Oleh karena itu injeksi bahan bakar dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi polusi, dan juga memberikan tenaga keluaran yang lebih.

3.2 Tune Up
       Tune-up suatu jenis service yang harus rutin dilakukan secara berkala pada kendaraan, yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi mesin seperti semula (standar) yaitu suatu kondisi pada kendaraan sebelum mengalami gangguan. Tune-up dilakukan harus rutin agar kondisi kendaraan selalu dalam kondisi siap pakai. Tune-up paling cepat dilakukan pada jarak 10.000 Km dan paling lambat dilakukan pad jarak 20.000 Km.
A. Langkah – Langkah Dalam Tune Up EFI
1.      Buka kap mobil terlebih dahulu , kemudian buka busi dengan menggunakan kunci busi .
2.      Setelah itu bersihkan busi tersebut dengan menggunakan gerinda kawat (Brasing) , apabila busi itu sudah di bersihkan, setel busi menggunakan feeler.
3.      Buka saringan udara dan bersihkan saringan udara tersebut dengan menggunakan kompresor .
4.      Buka a.b.s actuator dan bersihkan menggunakan cleaner.
5.      Cek cap radiator.
6.      Buka filter bensin dengan menggunakan obeng (-).
7.      Setelah itu bersihkan filter bensin dengan menggunakan kompresor hingga bensin dan kotoran yang tersumbat dalam filter bensin tersebut keluar dan tidak menyebabkan terjadinya penyumbatan ..
8.      Apabila sudah selesai semua pekerjaan tadi maka pasangkan kembali busi , saringan udara , beserta filter bensinnya.
9.      Bila oli sudah waktunya untuk diganti, ganti oli dengan cara membuka baud pengunci pada oil pan, tampung oli menggunakan wadah yang telah disediakan,
10.  Isikan oli yang baru.
11.  Cek air radiator, air washer, wiper.
12.  Cek Lampu – Lampu.
13.  Tutup kembali cup mobil , proses Tune-Up EFI telah selesai dilakukan.








.

http://www.crustyquinns.com/tech/cdi.png
Gambar 3.3 Pengapian CDI

Capacitor Discharge Ignition (CDI) merupakan sistem pengapian elektronik yang sangat populer  digunakan pada kendaraan saat ini. Sistem pengapian CDI terbukti lebih menguntungkan dan lebih baik dibanding sistem pengapian konvensional (menggunakan platina). Dengan sistem CDI, tegangan pengapian yang dihasilkan lebih besar (sekitar 40 KV) dan stabil sehingga proses pembakaran campuran bensin dan udara bisa berpeluang makin sempurna. Dengan demikian, terjadinya endapan karbon pada busi juga dapat dihindari. Selain itu, dengan sistem CDI tidak memerlukan penyetelan seperti penyetelan pada platina. Peran platina telah digantikan oleh thyristor sebagai saklar elektronik dan pulser coil atau “pick-up coil” (koil pulsa generator) yang dipasang dekat flywheel generator atau rotor alternator (kadang-kadang pulser coil menyatu sebagai bagian dari komponen dalam piringan stator, kadang-kadang dipasang secara terpisah).
Secara umum beberapa kelebihan sistem pengapian CDI dibandingkan dengan sistem pengapian konvensional adalah :
1.      Tidak memerlukan penyetelan saat pengapian, karena saat pengapian terjadi secara otomatis yang diatur secara elektronik.
2.      Lebih stabil, kerena tidak ada loncatan bunga api seperti yang terjadi pada platina sistem pengapian konvensional.
3.      Mesin mudah distart, karena tidak tergantung pada kondisi platina.
4.      Unit CDI dikemas dalam kotak plastik yang dicetak sehingga tahan terhadap air dan goncangan.
5.      pemeliharaan lebih mudah, karena kemungkinan aus pada titik kontak platina tidak ada.







http://viozaax.files.wordpress.com/2008/11/cdi.png
Gambar 3.4 Cara Kerja CDI

      Pada saat magnet permanen (dalam flywheel magnet) berputar, maka akan dihasilkan arus listrik AC dalam bentuk induksi listrik dari source coil seperti terlihat pada gambar diatas. Arus ini akan diterima oleh CDI unit dengan tegangan sebesar 100 sampai 400 volt. Arus tersebut selanjutnya diubah menjadi arus setengah gelombang (menjadi arus searah) oleh dioda, kemudian disimpan dalam kondensor (kapasitor) dalam CDI unit. Kapasitor tersebut tidak akan melepas arus yang disimpan sebelum SCR (thyristor) bekerja. Pada saat terjadinya pengapian, pulsa generator akan menghasilkan arus sinyal. Arus sinyal ini akan disalurkan ke gerbang (gate) SCR. Dengan adanya trigger (pemicu) dari gate tersebut, kemudian SCR akan aktif (on) dan menyalurkan arus listrik dari anoda (A) ke katoda (K). Dengan berfungsinya SCR tersebut, menyebabkan kapasitor melepaskan arus (discharge) dengan cepat. Kemudian arus mengalir ke kumparan primer (primary coil) koil pengapian untuk menghasilkan tegangan sebesar 100 sampai 400 volt sebagai tegangan induksi sendiri. Akibat induksi diri dari kumparan primer tersebut, kemudian terjadi induksi dalam kumparan sekunder dengan tegangan sebesar 15 KV sampai 20 KV. Tegangan tinggi tersebut selanjutnya mengalir ke busi dalam bentuk loncatan bunga api yang akan membakar campuran bensin dan udara dalam ruang bakar. Terjadinya tegangan tinggi pada koil pengapian adalah saat koil pulsa dilewati oleh magnet, ini berarti waktu pengapian (Ignition Timing) ditentukan oleh penetapan posisi koil pulsa, sehingga sistem pengapian CDI tidak memerlukan penyetelan waktu pengapian seperti pada sistem pengapian konvensional. Pemajuan saat pengapian terjadi secara otomatis yaitu saat pengapian dimajukan bersama dengan bertambahnya tegangan koil pulsa akibat kecepatan putaran motor. Selain itu SCR pada sistem pengapian CDI bekerja lebih cepat dari contact breaker (platina) dan kapasitor melakukan pengosongan arus (discharge) sangat cepat, sehingga kumparan sekunder koil pengapian teriduksi dengan cepat dan menghasilkan tegangan yang cukup tinggi untuk memercikan bunga api pada busi.
1. Busi
Busi berfungsi sebagai alat loncat listrik didalam ruang bakar.
Gambar 3.5 Kontruksi Busi
Gambar 3.6 Tingkat Kepanasan Busi
1.1 Cara pemeriksaan Busi :
§  Buka kap mobil terlebih dahulu , kemudian buka busi dengan menggunakan kunci busi .
§  Setelah itu bersihkan busi tersebut dengan menggunakan gerinda kawat (Brasing) , apabila busi itu sudah di bersihkan, setel busi menggunakan feeler.
§  Bila secara fisual busi tidak memungkinkan untuk digunakan kembali, ganti busi dengan baru.
§  Pasangkan busi menggunakan kunci busi.
§  Pasangkan kembali kabel busi pada busi.
§  Bila telah selesai, tutup kap mobil.
§  Proses memeriksa busi telah dilakukan.
B.     Sistem Pelumasan
       Seluruh komponen pada mesin yang bergerak diharapkan tidak cepat aus Sehingga Kekuatan bahan dapat dipertahankan atau dengan kata lain tidak terjadi kontak langsung dengan komponen – komponen yang saling bergesekan.
a.       Fungsi oli pelumasan
§  Oli membentuk lapisan (oil film) mencegah kontak langsung permukaan logam dengan logam. Mengurangi gesekan dan mencegah keausan dan panas.
§  Oli mendinginkan pada bagian – bagian mesin.
§  Berfungsi sebagai seal antara torak dengan lubang dinding silinder.
§  Mengeluarkan kotoran dari kotoran dari bagian – bagian mesin.
§  Mencegah karat pada begian – bagian mesin.
b.      Komponen sistem pelumasan:
·                     Oil filter
Berfungsi menyaring oli dari kotoran – kotoran yang halus agar tidak merusak bearing atau bagian yang presisi.
·         Penampang oli (oil pan)
Adalah sebagai tempat penampungan minyak yang akan dihisap dan ditekan kebagian – bagian mesin yang perlu mendapatkan pelumasan.
c.       Cara mengganti Oli dan mengganti oli filter
·         Naikan kendaraan mengunakan lift.
·         Menggunakan kunci Ring (17 – 19) Buka baud pengunci pada oil pan.
·         Tampung oli menggunakan wadah yang telah disediakan, setelah semua oli tertampung pasangkan kembali baud penguncinya.
·         Menggunakan tracker filter oil lepas filter oil dan tampung sisa oli ke dalam wadah tadi.
·         Pasangkan filter oil yang baru nemun terlebih dahulu lumasi filter oil.
·         Setelah filter oil terpasang, isikan engine oil yang baru ke dalam mesin.
·         Turunkan kendaraan, pengantian engine oil dan filter oil telah selesai dilakukan.

C.     Sistem bahan bakar
       Adalah merupakan bagian penting sebagai kelengkapan suatu engine. Bahan bakar ditampung oleh tangki mesin, disaring oleh saringan bensin, dihisap dan ditekan oleh pompa bensin kemudian dicampur dengan udara di dalam karburator yang selanjutnya diteruskan kedalam silinder melalui intake manifold.

Gambar 3.7 Sistem Bahan Bakar

       Mesin dengan karburator konvensional, jumlah bahan bakar yang diperlukan oleh mesin diatur oleh karburator. Pada mesin modern dengan menggunakan sistem EFI maka jumlah bahan bakar diatur lebih akurat oleh komputer dengan mengirimkan bahan bakarnya ke silinder melalui injector.


Gambar 3.8 Sistem EFI

a.       Komponen sistem bahan bakar
·         Air filter
        Udara bersih dari saringan udara (Air Filter) masuk ke airflow meter dengan membuka measuring plate,  besarnya pembukaan ini tergantung pada kecepatan aliran udara yang masuk ke inteke chamber, besarnya udara yang masuk ke intake chamber ditentukan oleh lebarnya katup throttle terbuka.
·         Fuel filter
       Saringan bensin (fuel Filter) yang letaknya antara tangki dan pompa bahan bakar (fuel pump) akan menyaring benda asing dari bahan bakar. Kotoran akan mengendap dibagian bawah saringan, sedangkan kotoran benda asing yang ringan menempel pada elemen. Saringan bensin tidak dapat diperbaiki dan harus diganti dalam satu unit.
b.. Cara membersihkan air filter dan fuel filter
·         Buka kap mobil terlebih dahulu Buka saringan udara dan bersihkan saringan udara tersebut dengan menggunakan kompresor




Gambar 3.9 Saringan Udara
·                     Buka filter bensin dengan menggunakan obeng (-).
·          Setelah itu bersihkan filter bensin dengan menggunakan kompresor hingga bensin dan kotoran yang tersumbat dalam filter bensin tersebut keluar dan tidak menyebabkan terjadinya penyumbatan
·         Pasangkan kembali fuel filter.
·         Proses pemeriksaan fuel filter dan air filter telah dilakukan.

3.3 Sistem Rem
       Sistem chasis berpengaruh langsung terhadap kenikmatan berkendaraan, stabilitas dan lain sebagainya. Sistem rem digunakan untuk mengurangi atau menghentikan jalannya kendaraan atau mempertahankan posisi kendaraan pada saat diparkir.

Gambar 3.10 Sistem Rem

A.    Rem tromol
       Rem teromol adalah salah satu konstruksi rem yang cara pengereman kendaraannya dengan menggunakan tromol rem, sepatu rem dan silinder roda.
a. Komponen rem tromol terdiri dari :
§  Backing Plate
§  Silinder Roda
§  Sepatu Rem dan Kanvas
§  Tromol Rem
b. Cara Kerja rem tromol :
       Pada tipe rem tromol, kekuatan tenaga pengereman diperoleh dari sepatu rem yang diam menekan permukaan rem tromol bagian dalam yang berputar bersama - sama dengan roda. Karena Self Energizing Action ditimbulkan oleh tenaga putar dan tenaga mengembangnya sepatu, kekuatan tenaga pengereman yang besar di akibatkan oleh usaha pedal yang relatif kecil.
Gambar 3.11 Rem Tromol
c. Langkah – Langkah Dalam Pemeriksaan Rem Tromol
§ Dongkrak mobil , kemudian pasangkan jack stand pada chasiss mobil yang kuat.
§ Buka roda mobil tersebut menggunakan konci roda.
§ Apabila sudah dibuka lepas tromol rem dari backing plate .
§ Cek kanvas rem (brake shoe) bila secara fisual masih layak digunakan, bersihkan brake shoe menggunakan hamplas, beserta tromolnya (brake drum).
§ Bila telah selesai bersihkan brake shoe dan tromolnya menggunakan kompresor (air gun)
§ Kemudian pasangkan kembali tromol rem pada brake plate. Bila telah terpasang rapat, pasangkan roda.
§ Turunkan kendaraan, proses memeriksa tromol rem telah selesai dilakukan.

B. Rem cakram
       Pada rem cakram daya pengereman terjadi karena adanya gesekan antara cakram dengan pad, bila pad menjadi tipis karena aus maka celah antara rotor dengan pad bertambah dan memerlukan langkah pedal yang lebih besar.
Gambar 3.12 Rem Cakram

a.  Pad Rem
       Pad (disc pad) biasa dibuat campuran metalic fiber dan sedikit serbuk besi Tipe ini disebut dengan “Semi metallic disc pad”. Pada pad diberi garis celah untuk menunjukan tebal pad (batas yang diizinkan). Dengan demikian dapat mempermudah pengecekan keausan pad.
Cara pemeriksaan Rem dan Mengganti Pad Rem.
§ Dongkrak mobil, kemudian pasangkan jack stand pada chasiss mobil yang kuat.
·   Buka roda mobil tersebut menggunakan impact (sock 21).
·   Apabila roda telah terlepas, buka baud yang mengunci caliper pada disc rotor.
·   Angkat caliper ke atas, dan lepas brake pad.
·   Bila brake pad secara fisual memungkinkan untuk tetap digunakan bersihkan brake pad menggunakan hamplas.
·   Dan bila Brake pad akan diganti, press bearing (piston) pada caliper.
·   Pasangkan brake pad yang baru pada disc lotor yang telah diberi gemuk pada kedua ujungnya dan setelah bearing caliper (piston) di press menggunakan traker Rem.
·   Setelah selesai terpasang, pasangkan kembali dan kuatkan baud pengunci caliper.
·   Kemudian pasangkan kembali roda.
·   Turunkan kendaraan, proses penggantian Brake pad pada rem cakram telah selesai dilakukan.

3.4  Poros penggerak kendaraan FF (Drive Shaft).
       Poros Pengerak (drive shaft) untuk kendaraan FF berfungsi menggerakan roda – roda kendaraan, yang menggunakan sistem suspensi independent, sudut joint dan jarak antara differential dengan roda akan berubah sesuai dengan perubahaan sudut antara body kendaraaan terhadap permukaan jalan selama bergerak.
Gambar 3.13 Drive Shaft
Gambar 3.14 Drive Shaft Kendaraan FF


A. Cara mengganti drive shaft :
·    Naikan kendaraan menggunakan lift sampai roda terangkat.
·    Buka kedua roda depan menggunakan impact.
·    Setelah roda terbuka lepas rem cakram, dimulai dengan membuka caliper, beserta pad remnya.
·    Setelah caliper terlepas lepas baud yang menghubungkan antara shock absorber dan steering knuckle.
·    Kemudian lepas tie rod end dari steering knuckle.
·    Lepas baud axle hub, setelah itu menggunakan SST lepas drive shaft yang dihubungkan ke defferential.
·    Setelah semua dapat dilepas, keluarkan drive shaft, dan drive shaft telah dilepas dari front axle.
·    Masukan drive shaft yang baru dan pasangkan drive shaft yang baru ke dalam defferential.
·    Setelah terpasang ke defferential pasangkan ke front axle.
·    Setelah itu pasangkan steering knuckle ke dudukan shock absorber.
·    Kemudian pasangkan tie rod end dan kunci dengan baud.
·    Setelah itu pasangan caliper rem dan kunci dengan baud.
·    Semua terpasang, kuatkan baud pada front axle
·    Setelah semua terpasang roda dapat dipasangkan.
·    Kendaraan dapat di turunkan, proses mengganti drive shaft kendaraan FF telah selesai dilakukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar